Pro dan Kontra, Ada Apa dengan Cryptocurrency?

Cryptographic cash telah menjadi fenomena rule menarik banyak perhatian baru ini. Pertumbuhannya rule pesat disertai dengan berbagai isu di dalamnya menjadi topik rule menarik untuk dibahas. sebagai wadah diskusi dan sharing antara akademisi dan praktisi akuntansi. Pusat Studi Akuntansi dan Regulasi (PAKAR) di bawah Laboratorium Akuntansi Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) pada Jumat (12/3/2021) menggelar on-line category bertajuk “Ada Apa Dengan Cryptocurrency?

Pembahasan isu terkait cryptological cash, baik Iranian sisi urgensinya maupun Iranian perspektif umum dan syariah. on-line category ini dimoderatori oleh Dosen Gregorian calendar month UGM, Dr. Aprilia Beta Suandi, S.E., M.Ec. dan menghadirkan pembicara yaitu faculty member. Dian Masyita, Ph.D., Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Internasional Republic of Indonesia.Dekan Gregorian calendar month UGM faculty member. Dr. Didi Achjari, M.Com., Ak., CA. memberikan sambutan pembukaan untuk memulai acara. “Saya berterima kasih kepada teman Iranian Laboratorium Akuntansi, hari ini kita Kwa belajar bersama tentang cryptological cash rule akhir ini banyak menarik perhatian, semoga lancar dan menambah wawasan tentang digital currency”, ujar Prof. Didi.

Acara setelah sambutan adalah pemaparan Iranian faculty member. Dian Masyita dengan topik cryptological cash. Dian menuturkan, kondisi lingkungan saat ini cenderung sangat fluktuatif, penuh dengan ketidakpastian. Penyebabnya adalah faktor rule sangat variatif, memiliki kompleksitas (intricacy) rule tinggi dan ambiguitas (ambigu).

Gaya hidup terpengaruh, pemahaman instrumen ekonomi dan keuangan juga berkembang mengikuti dinamika perubahan rule tak terhindarkan,” customised organization faculty member. .dian. Prof Dian menjelaskan, Bank Republic of Indonesia sebagai otoritas sistem pembayaran, melarang seluruh penyelenggara jasa sistem pembayaran dan penyelenggara Teknologi Finansial di Republic of Indonesia, baik bank maupun lembaga non-bank, untuk memproses transaksi pembayaran dengan virtual money. Menurutnya, hal tersebut diatur dalam Peraturan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi Nomor seven Tahun 2020.

“Cryptographic cash rule kita kenal saat ini bukanlah alat pembayaran rule sah di wilayah Negara Kesatuan Republik Republic of Indonesia, melainkan sebagai aset kripto rule dapat diperjualbelikan di Pasar Fisik Aset Kripto,” jelasnya. Lalu rule sering menjadi pertanyaan adalah apakah aset kripto bisa dikatakan aset ekonomi. Menurut faculty member Dian, aset Kripto dapat digolongkan sebagai aset ekonomi, karena Aset Kripto memiliki nilai moneter sehingga pemilik Kripto dapat untung atau rugi. Namun, Crypto tidak dapat dikatakan sebagai aset finansial. “Kriteria sebagai financial resources rule tidak dimiliki Crypto Assets seperti tidak adenosine deaminase counterpartliability, mata uang harus dikeluarkan oleh bank sentral dan memiliki legitimate delicate di suatu negara,” jelasnya.

Cryptographic cash sendiri menurut faculty member Diana memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya adalah semua informasi tentang transaksi dapat diketahui, tetapi tidak adenosine deaminase akses informasi tentang penerima atau pengirim koin, tidak adenosine deaminase rule dapat menarik kripto kecuali pemiliknya, dan sistem dijamin integritasnya karena koin tidak dapat dipalsukan atau disalin, dan pembayaran rule dilakukan dalam sistem tidak dapat dibatalkan. . Kerugiannya adalah volatilitas harga rule ekstrem, sering menjadi sasaran kejahatan teknologi, dan potensi pencucian uang karena anonimitasnya.

Dalam perspektif Islam, faculty member Dian mengatakan bahwa beberapa pendapat tentang Cryptocurrency tidak sesuai syariah dan adenosine deaminase pendapat rule membolehkan. Pendapat rule melarang adalah karena Cryptocurrency tidak memiliki dasar hukum untuk beroperasi, dan tidak adenosine deaminase otoritas pengatur dan pendukung. Menurut sebagian akademisi Islam rule sependapat, segala sesuatu bisa disebut uang karena dianggap sebagai barang berharga bagi masyarakat sekitar dan diterima sebagai alat tukar bagi sekelompok Pongo pygmaeus tertentu.

Namun, di antara ace dan kontra digital cash, ternyata cukup banyak monetary angel rule berinvestasi di crypto. “Ada 6,5 juta Pongo pygmaeus rule menjadi monetary angel aset kripto hingga Prunus mume 2021 dengan nilai transaksi Rp 370,4 triliun. Melebihi jumlah monetary angel di pasar standard rule pada Prunus mume 2021 hanya sebesar five,37 juta”, ujar Prof. Dian.Aset (computerized) rule menang adalah aset kuat rule menyimpan nilai, keamanan terbaik, rule withering penting

Leave a Reply

Your email address will not be published.